Makassar, Kemendikbud — Sekolah Luar Biasa (SLB) Jenetallasa Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan saat ini merupakan salah satu sekolah yang dikenal secara luas, dan menjadi tujuan bagi orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) di kabupaten Gowa dalam pendidikan anak-anak mereka. Sepuluh tahun yang lalu, berbagai hambatan dialami Aisyah Gaffar ketika mendirikan sekolah luar biasa tersebut.

Sebelum SLB Jenetallasa didirikan, di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa ada lebih dari dua ratus ABK yang putus sekolah di sekitar tempat tinggal Aisyah. Hal itu mendorongnya untuk mendirikan sekolah bagi ABK yang putus sekolah tersebut. Tahun 2008, ia mendirikan SLB Jenetallasa untuk menjadi tempat belajar bagi para ABK di Gowa.

“Saya awalnya bekerja sama dengan pihak Puskesmas, Kepala Desa, dan Camat Pallangga untuk membujuk orang tua ABK agar mau menyekolahkan anaknya di SLB,” kata wanita berkerudung ini, Jumat (27/7/2018). Kesulitan yang timbul pada saat tersebut, ketika banyak siswa ABK yang diantar petugas Puskesmas mendaftar, namun bertempat tinggal jauh dari sekolah.

Aisyah harus mencari cara agar siswanya tetap bisa datang ke sekolah. “Kami bekerja sama dengan orang tua siswa untuk membantu mencarikan kendaraan untuk antar jemput anak yang rumahnya jauh dari sekolah, alhamdulillah kini sudah ada solusinya,” jelasnya. Kini siswa SLB Jenetallasa yang tinggal jauh dari sekolah bisa datang ke sekolah dengan mobil bekas yang disewa dari hasil patungan orang tua siswa. “Saya berterima kasih kepada orang tua siswa yang telah membantu kami mencarikan kendaraan untuk antar jemput ini meskipun bukan mobil baru yang penting bisa jalan,” tambah wanita lulusan Universitas Negeri Makassar tersebut.

Pada tahun pertama SLB Jenetallasa berdiri, jumlah siswa yang mendaftar sebanyak 38 anak. Kini jumlah siswa SLB tersebut berjumlah 94 anak. Pengajar SLB sejumlah lima belas orang, terdiri dari tiga guru laki-laki dan dua belas guru perempuan.

SLB Jenetallasa telah menerapkan nilai-nilai penguatan pendidikan karakter (PPK) dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan setiap hari meliputi berdoa sebelum belajar, berdoa sebelum dan sesudah makan, dan menyanyikan lagu kebangsaan sebelum memulai kegiatan belajar di kelas, dan membaca. Selain itu ada pula gerakan Jumat Ibadah dan Sabtu Bersih sebagai bagian penerapan PPK di SLB ini. Aisyah dan para guru terus belajar dari sekolah-sekolah lain agar pembelajaran dan penguatan karakter di sekolahnya lebih efektif. (Nur Widiyanto, Agus Pramono)

Sekolah Luar Biasa Jenetallasa, Harapan Anak-Anak Berkebutuhan Khusus di Kabupaten Gowa