Tanya Jawab Penguatan Pendidikan Karakter

1. Apa itu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)?
 

Sebagaimana tercantum dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

PPK merupakan upaya untuk menumbuhkan dan membekali generasi penerus agar memiliki bekal karakter baik, keterampilan literasi yang tinggi, dan memiliki kompetensi unggul abad 21 yaitu mampu berpikir kritis dan analitis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

2. Apa yang melatarbelakangi pentingnya Kebijakan PPK?

Indonesia tengah menghadapi abad ke 21 yang ditandai dengan berbagai kecenderungan global. Setidaknya terdapat 3 (tiga) kecenderungan penting yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini:

  • Berlangsungnya revolusi industri keempat yang ditandai dengan fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam era revolusi digital;
  • Perubahan peradaban masyarakat yang ditandai dengan berubahnya sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban, dan kemasyarakatan termasuk Pendidikan;
  • Semakin tegasnya fenomena Abad Kreatif yang menempatkan informasi, pengetahuan, kreativitas, inovasi dan jejaring sebagai sumber daya strategis bagi individu, masyarakat, korporasi, dan negara.

Ketiga hal tersebut telah memunculkan tatanan baru, ukuran-ukuran baru, dan kebutuhan-kebutuhan baru yang berbeda dengan sebelumnya, yang harus ditanggapi dan dipenuhi oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Disinilah letak peran sentral dari dunia pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai kapital intelektual yang mampu beradaptasi dan diharapkan memiliki keunggulan kompetitif di dalam era persaingan global.

3. Apa tujuan dari PPK?

membangun dan membekali Peserta Didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan;

  1. mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi Peserta Didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia;
  2. merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, Peserta Didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK

4. Apa yang menjadi dasar kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter ini?

  • Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
  • Agenda Nawacita No. 8: Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.
  • Trisakti: Mewujudkan Generasi yang Berkepribadian dalam Kebudayaan.
  • RPJMN 2015-2019: “Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”.
  • Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal.

5. Karakter seperti apa yang menjadi titik fokus (karakter yang diharapkan muncul) dalam kebijakan PPK ini?

Karakter adalah perwujudan dari kebiasaan-kebiasaan berperilaku baik dalam keseharian yang meliputi watak terpuji, akhlak mulia, sikap mental dan budi pekerti yang luhur. Adapun nilai-nilai utama karakter yang menjadi fokus dari kebijakan PPK adalah: religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Nilai-nilai utama tersebut berdasarkan nilai-nilai Pancasila, 3 pilar Gerakan Nasional Revolusi Revolusi Mental (GNRM), kekayaan budaya bangsa (kearifan lokal) dan kekuatan moralitas yang dibutuhkan bangsa Indonesia menghadapi tantangan di masa depan. Uraian dari 5 nilai utama tersebut adalah sebagai berikut:

Religiositas

Mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religius ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan.

Subnilai religius antara lain beriman dan bertaqwa, disiplin ibadah, cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, melindungi yang kecil dan tersisih, mencintai dan menjaga lingkungan, bersih, memanfaatkan lingkungan dengan bijak

Nasionalisme

Merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Subnilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, semangat kebangsaan, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghargai kebhinnekaan, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

Kemandirian

Merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita.

Subnilai mandiri antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh, tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Gotong Royong

Mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan.

Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

Integritas

Merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran.

Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).

6. Bagaimana pendekatan implementasi PPK pada satuan pendidikan?

PPK diimplementasikan dengan 3 pendekatan sebagai berikut:

  1. PPK berbasis kelas yaitu integrasi nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran atau mata pelajaran, pengelolaan kelas dan metode pembelajaran, evaluasi pembelajaran/pembimbingan, pengembangan kurikulum muatan lokal sesuai karakteristik daerah.
  2. PPK berbasis budaya sekolah yaitu pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah; keteladanan antar warga sekolah, pelibatan seluruh pemangku kepentingan Pendidikan, membangun norma, peraturan, dan tradisi sekolah, pengembangan keunikan, keunggulan, dan daya saing sekolah sebagai ciri khas sekolah, memberi ruang yang luas kepada siswa untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan literasi, dan kegiatan ekstrakurikuler.
  3. PPK berbasis masyarakat yaitu memperkuat peranan orang tua dan Komite Sekolah, melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber belajar seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, alumni, dunia usaha, dan dunia industri; dan sinergi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademisi, pegiat pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga informasi.

7. Bagaimana PPK diimplementasikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)?

Penyelenggaraan PPK pada Satuan Pendidikan Formal diimplementasikan melalui manajemen berbasis sekolah, yaitu memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah serta tenaga kependidikan bersama Komite Sekolah sesuai dengan kebutuhan dan konteks satuan pendidikan. Bebrapa yang perlu diupayakan dalam konteks manajemen berbasis sekolah yaitu menguatkan jejaring Tri Pusat Pendidikan (Sekolah, Keluarga dan Masyarakat), Sekolah menjadi sentral yaitu lingkungan sekitar dijadikan sumber-sumber belajar, Individualisasi Anak yaitu guru perlu membantu setiap anak untuk mengaktualkan potensi yang dimilikinya, revitalisasi peran kepala sekolah (sebagai innovator, motivator, kolaborator) dan guru (sebagai penghubung sumber belajar, pelindung, fasilitator, katalisator), melakukan penilaian berupa catatan kepribadian atau karakter anak, melakukan sinkronisasi dan pembiasaan baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan nonkurikuler, serta melaksanakan Penguatan peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama dalam penumbuhan dan pembiasaan karakter anak.

8. Berapa hari penyelenggaraan PPK di satuan pendidikan formal?

Penyelenggaraan PPK dilaksanakan selama 6 (enam) atau 5 (lima) hari sekolah dalam 1 (satu) minggu. Perlu diketahui bahwa PPK bukan Fullday School sebagaimana pernah ramai di media, kebijakan PPK tidak mematikan madrasah diniyah, tapi justru mendorong sekolah agar mampu membangun kerjasama dengan sumber-sumber belajar di luar sekolah, seperti institusi pendidikan keagamaan, lembaga seni dan budaya, komunitas sastra, klub olah raga, dan sebagainya.

9. Apa wewenang dan tanggung jawab Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten/kota/provinsi dalam rangka mendukung implementasi PPK?

Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten/kota/provinsi berwenang dan memiliki tanggung jawab sebagai berikut:menjamin terlaksananya penyelenggaraan PPK;

    • melakukan kerja sama dengan unit pelaksana teknis kementerian/lembaga di wilayahnya yang mendukung penyelenggaraan PPK;
    • memfasilitasi kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri yang mendukung penyelenggaraan PPK;
    • menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dalam penyelenggaraan PPK;
    • menyediakan anggaran untuk penyelenggaraan PPK di sekolah; dan
    • melakukan sosialisasi penyelenggaraan PPK.
    • melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala paling sedikit satu kali dalam 1 tahun.

10. Bagaimana bentuk riil dari sinkronisasi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan nonkurikuler?

Sebagai contoh:

Kegiatan Intrakurikuler

Contoh penerapan dalam intrakurikuler, misalnya, dalam proses pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013, telah dilengkapi dengan rambu-rambu dimana guru tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran, namun memasukan unsur budi pekerti/karakter didalamnya. Sebagai contoh, seorang guru kimia, ketika mengajar tentang chlorine, tidak hanya menyampaikan tentang telaah unsur kimia chlorine, namun harus mampu memberikan informasi tentang apa manfaat, dampak, dan bagaimana menggunakan chlorine dengan bijak atau ramah lingkungan. Berarti didalamnya ada nilai karakter kepedulian pada lingkungan.

Kegiatan Kokurikuler

Contoh penerapan pada bidang kokurikuler, misalnya, siswa melakukan kegiatan studi lapangan di kawasan pertanian, untuk mengetahui cara bertani yang baik. Siswa dapat menghayati, bagaimana kerja keras petani dalam menghasilkan padi/beras untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan siswa peduli terhadap kerja keras, menghargai sesama, dan juga dapat mensyukuri berkah dari Yang Maha Kuasa. Hal ini juga akan membentuk karakter siswa.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Contoh penumbuhan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler, misalnya di bidang olahraga, seni budaya lokal, dan keterampilan lainnya menumbuhkan karakter kreativitas, kemandirian bagi siswa. Kegiatan ini dilakukan sesuai minat dan bakat siswa dan dilakukan di bawah bimbingan guru, pelatih, serta melibatkan orang tua dan masyarakat: Pramuka, PMR, Paskibraka, Kesenian, Bahasa, KIR, Keagamaan, Jurnalistik, Olahraga, dsb

Kegiatan Nonkurikuler

Kegiatan nonkurikuler: seperti kerja bakti, melakukan ibadah bersama misalnya sholat berjemaah, bersalaman dengan guru atau orang yang lebih tua yang ditemui baik di sekolah atau di lingkungan rumah, juga merupakan pembiasaan-pembiasaan baik yang dilakukan untuk menumbuhkan budi pekerti atau karakter yang baik bagi siswa kita. Kegiatan lain yang dapat dilakukan misalnya juga adalah: upacara Bendera (Senin), Apel, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Lagu Nasional, dan berdoa bersama dilanjutkan dengan membaca Kitab Suci dan/atau buku-buku non-pelajaran tentang PBP 15 menit sebelum memulai pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran siswa tersebut tentu harus disesuaikan dengan kreativitas sekolah dan budaya lokal setempat. Peningkatan kualitas guru, tersedianya fasilitas sarana dan prasarana, penguatan kurikulum 2013, serta mekanisme pelibatan publik juga masih harus terus dilakukan dan dikaji lebih dalam. Dengan demikian, ikhtiar Kemendikbud dan seluruh elemen dalam ekosistem pendidikan dapat berjalan dengan baik dan optimal.

11. Bagaimana peran pendidikan formal maupun non formal dalam pendidikan karakter?

Pada hakekatnya pendidikan karakter perlu didukung oleh tata peradaban dan penyelenggaraan pendidikan dalam arti luas. Pendidikan sebagai tanggung jawab kolektif seluruh warga Indonesia, memerlukan dukungan struktur pendidikan formal, informal dan bahkan non-formal secara komprehensif dan terpadu, sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Pendidikan karakter secara ideal diimplementasikan di semua jenjang pendidikan yaitu PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Pendidikan Tinggi, serta di lingkungan masyarakat luas.

12. Upaya apa yang dilakukan dalam menyinkronkan keluarga, lingkungan, teman pergaulan dalam pembangunan karakter?

Lingkungan terdekat anak-anak kita yaitu orang tua dan keluarga, lingkungan domisili rumah dan lingkungan pergaulan teman-teman, merupakan lingkungan strategis anak-anak kita untuk memperolah pendidikan karakter. Disinilah perlunya peran serta aktif lingkungan terdekat anak-anak kita, melalui komunikasi dialogis yang intens antar orang tua, keluarga, teman lingkungan dengan anak. Adapun Kepala Sekolah dan Guru-guru sebagai salah satu aktor utama pendidikan karakter, wajib membangun interaksi dan komunikasi positif dengan orang tua untuk memantau perkembangan pendidikan karakter siswa. Upaya ini perlu disosialisasikan agar peran penumbuhan dan penyemaian karakter baik dapat terus-menerus dilakukan oleh seluruh ekosistem pendidikan dan khususnya peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama anak-anak kita. Dengan demikian, kebersamaan dan komunikasi yang baik merupakan faktor yang mendukung terwujudnya lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan masyarakat yang kondusif dan sehat sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan karakter anak-anak.

13. Pemerintah berupaya melakukan restorasi pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan karakter. Apa saja yang akan dilakukan untuk merestorasi pendidikan di negeri kita?

Restorasi pendidikan dasar dan menengah akan dilakukan secara bertahap. Sesuai dengan arahan Rencana Strategis Kemdikbud 2015-2019, upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Penguatan Aktor/Pelaku dalam pendidikan, yaitu siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemimpin institusi pendidikan dalam ekosistem pendidikan dan kebudayaan.
  • Perbaikan Mutu dan Akses Pendidikan, sehingga mutu pendidikan semakin meningkat dan akses pendidikan semakin luas, merata, dan berkeadilan, khususnya untuk masyarakat yang terpinggirkan, serta bagi wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
  • Pelibatan Publik, yaitu bagaimana menggerakan partisipasi masyarakat, pegiat pendidikan, dunia industry dan dunia usaha untuk menumbuhkan budi pekerti agar terlaksana secara menyeluruh.
  • Pelaksanaan Tata Kelola yang baik, untuk menjamin pelaksanaan dan keberhasilan dalam menumbuhkan karakter yang baik, di tingkat pusat dan daerah.
  • Pelestarian kebudayaan dan pengembangan bahasa Indonesia di sekolah. Sarana pendidikan menjadi juga wadah untuk pewarisan dan pengembangan budaya agar jati diri bangsa Indonesia kuat. Karakter yang bercirikan budaya bangsa juga perlu untuk ditumbuhkan di sekolah.

Dengan demikian, penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat mengemban amanat Negara untuk mencerdaskan bangsa yang berbudi pekerti luhur dalam menghadapi iklim persaingan global yang semakin ketat.

14. Apa kelemahan pembangunan karakter selama ini?

Pertama, kita harus mengakui bahwa terbatasnya pelibatan publik merupakan salah satu kelemahan dalam menumbuhkan karakter anak-anak. Kedua, fakta-fakta yang lain adalah terbatasnya pendampingan orang tua di rumah dalam membimbing dan membangun karakter anak-anaknya. Mereka seperti melakukan pembiaran terhadap berbagai perilaku menyimpang yang terjadi. Ketiga, faktor keteladanan orang tua, guru maupun kepala sekolah, dan bahkan tokoh-tokoh masyarakat yang tidak dapat menjadi role model bagi anak-anak. Keempat, harmonisasi antara olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik) dan olah raga (kinestetik) masih belum optimal, karena sekolah masih memprioritaskan kompetisi pengetahuan akademis, tanpa diperkuat dengan pendidikan karakter. Kelima, masih terbatasnya prasarana dan sarana fisik dan pembelajaran di sekolah yang kondisi kesenjangannya masih sangat beragam.

Untuk itu, peran dan partisipasi aktif tripusat, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya pembangunan karakter menghadapi berbagai dinamika kehidupan dan tantangan di era digital ini.

15. Sisi apa yang belum tersentuh?

Sisi yang belum tersentuh adalah dari aspek internal dan eksternal. Aspek internal adalah belum optimalnya keseimbangan dan harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinestetik). Penyelenggaraan pendidikan dalam dua dekade belakangan ini, nampaknya cenderung untuk mengedepankan pembangunan aspek pengetahuan akademis dan suasana kompetisi ketat antarsiswa dan antarsekolah, dibandingkan dengan pembangunan karakter dan pengembangan berkolaborasi, mewujudkan sifat saling menghargai dan berbagi diantara anak dan sekolah.

Kemudian aspek eksternal, di era revolusi industri keempat ini, yang ditandai dengan kemajuan pesat dan revolusi teknologi digital, maka kita harus mempersiapkan generasi yang memiliki keterampilan literasi yang tinggi, khususnya literasi digital serta literasi informasi dan komunikasi. Kemampuan memanfaatkan arus informasi yang sedemikian masif dan beragam, serta kemampuan berkomunikasi dan pengelolaan informasi yang tak terbatas, menjadi upaya strategis yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Anak-anak perlu ditumbuhkan dan dibekali dengan kompetensi unggul abad 21 yaitu mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Hal inilah yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh secara sistemik dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

16. Bagaimana budaya lokal berpengaruh terhadap pembangunan karakter?

Budaya lokal sebagai bagian dari kearifan bangsa yang hidup ditengah-tengah lingkungan masyarakat Indonesia, merupakan referensi utama dari pembentukan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Ia merupakan identitas dan kepribadian luhur bangsa Indonesia yang harus terus dilindungi, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi penerus secara berkelanjutan. Oleh karena itu, aktivitas PPK yang dikenal dengan 3 (tiga) basis utama yaitu berbasis kelas, berbasis budaya sekolah dan berbasis partisipasi masyarakat, sangat memperhatikan kearifan budaya lokal bangsa Indonesia secara kontekstual, serta dengan tetap memperhatikan keberagaman wilayah masing-masing. Sehingga di era globalisasi ini, berbagai kebudayaan lokal harus mampu membangun, mewarnai dan memperkuat identitas dan karakter bangsa anak-anak kita di sekolah, keluarga dan masyarakat, serta mampu tumbuh dan berkembang menjadi pemain utama di kancah global dan memiliki keunggulan bersaing untuk tampil  dalam masyarakat internasional.

17. Bagaimana bentuk realisasi program ini pada kurikulum dan proses pembelajaran di sekolah?

Gerakan PPK, tentu bersifat fleksibel sehingga mampu terintegrasi dalam struktur kurikulum, yakni PPK melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan nonkurikuler. Nilai-nilai inti karakter dalam konsep PPK dapat dikembangkan dan diintegrasikan melalui berbagai mata pelajaran, muatan lokal, maupun pengelolaan kelas.

18. Secara riil, apa yang harus dilakukan kepala sekolah? Guru? Orangtua?

  • Pertama dan utama adalah Keteladanan (Kepala Sekolah Guru, Orang tua)
  • Kepala Sekolah harus mampu mendesain program sekolah yang mendorong pelibatan publik
  • Pengembangan kapasitas guru melalui pelatihan dan forum-forum kependidikan, sehingga guru mampu mendesain pengelolaan kelas yang menyenangkan
  • Keterlibatan aktif orang tua di rumah dan sekolah dalam mendukung PPK

19. Budaya seperti apa yang ingin ditumbuhkan dari program ini?

Budaya yang perlu ditumbuhkan dan menjadi suatu kebiasaan dalam program ini adalah Gerakan. Gerakan yang tumbuh dalam pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian di sekolah, keteladanan Guru yang selalu menjadi hal patut dicontoh, Lalu tercipta tradisi dan aturan sekolah yang baik.

20. Apa kekhususan dari PPK dan adakah pengaruhnya program ini pada anggaran sekolah?

Gerakan PPK sebetulnya sudah diimplementasikan oleh sekolah-sekolah. PPK bukanlah produk baru, bukan mata pelajaran, bukan kurikulum baru tetapi merupakan penguatan atau fokus dari proses pembelajaran dan sebagai poros/ruh/jiwa Pendidikan. Kekayaan pengalaman, praktik-praktik baik, keteladanan dan perilaku baik Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua dalam keseharian di sekolah dan luar sekolah sebenarnya sudah sangat kaya dimiliki sekolah. Sehingga sekolah pun sudah terbiasa membuat program dengan anggaran yang sudah ada. Namun perlu dikuatkan dengan pelibatan publik dan sumbangsih masyarakat dalam bentuk apapun agar masyarakat memiliki rasa tanggung jawab pada institusi pendidikan.

 

21. Pemerintah menyatakan ada dua aspek pendidikan yang harus mendapat perhatian: pendidikan karakter dan pengetahuan umum. Apa yang harus dilakukan agar dua aspek itu terwujud?

  • Pendidikan karakter adalah upaya untuk menumbuhkan kebiasaan dan perilaku baik siswa melalui tahapan yang dimulai dari diajarkan, dibiasakan, dilatih secara konsisten, menjadi kebiasaan, terbentuk karakter, dan menjadi budaya bangsa.
  • Sekolah sebagai rumah kedua yang menyenangkan: Kemdikbud berupaya ingin menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa dan menempatkan peran orang tua sebagai pendidik pertama dan yang utama bagi anak-anaknya.
  • Sarana dan Prasarana: Kemdikbud terus membenahi kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana di sekolah-sekolah, terutama di daerah-daerah terluar, terdepan dan tertinggal, sesuai dengan amanat Nawacita, “Membangun Indonesia dari Pinggiran”.
  • Program Indonesia Pintar: Gerakan pemerataan kesempatan pendidikan sebagai upaya membangun karakter dan pengetahuan umum siswa di seluruh Indonesia.
  • Peningkatan Kualitas Guru: Kemdikbud terus memperbaiki kulitas guru melalui program Guru Pembelajar, Uji Kompetensi Guru (UKG), serta upaya peingkatan kesejahteraan guru, dengan upaya peningkatan pelayanan guru melalui Program Guru Garis Depan (GGD) dan Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T).

Kami membuka kesempatan untuk mengirimkan pertanyaan lebih lanjut melalui email di bawah ini:

pendidikankarakter@kemdikbud.go.id