KB & RA Istiqlal: Orang Tua dan Sekolah Harus Satu Bahasa

Blog Single

Harus diakui dan sekaligus juga bisa jadi sumber optimisme, bahwa banyak lembaga pendidikan swasta yang sudah menyadari pentingnya peran orang tua dalam keberhasilan proses pembelajaran di sekolah, mulai tingkat Pendidikaan Anak Usia Dini (PAUD), sampai SMA/SMK.

Salah satu lembaga pendidikan yang sudah mengajak orang tua untuk aktif dalam proses pembelajaran di sekolah itu adalah Kelompok Bermain( KB) dan Raudhathul Athfal (RA) Istiqlal yang berlokasi di lantai dasar Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Di KB dan RA yang berdiri pada tahun 1999 itu, peran aktif orang tua diwujudkan dengan diadakannya kegiatan Komite Sekolah, baik kegiatan yang sifatnya berkala, maupun yang sesuai dengan moment-moment tertentu, seperti hari besar nasional atau hari besar agama Islam.

Lusi Ratnawati, Wakil Ketua Komite Sekolah, menuturkan, orang tua murid selalu diundang untuk menghadiri pertemuan bulanan yang biasa digelar pada hari Sabtu/Minggu pertama. Dalam pertemuan tersebut, guru dan orang tua saling berkomunikasi dan tukar pengalaman tentang mendidik anak. Guru juga memanfaatkan pertemuan tersebut dengan menggelar sosialisasi tema tertentu.

“Tujuannya agar orang tua dan sekolah satu bahasa. Jikalau di sekolah membahas tema tentang hijrah, maka seharusnya di rumah juga dikondisikan dengan tema yang sama. Jadi anak akan mendapatkan dua input yang sama, “ kata Lusi.

Lorina, Kepala Bidang Pendidikan dan Kurikulum Komite Sekolah KB dan RA Istiqlal menambahkan, komite sekolah juga sering mendatangkan pembicara padaa saat pertemuan itu sesuai dengan kebutuhan orang tua. “Misalnya orang tua membutuhkan tema tentang psikologi, maka kita datangkan psikolog. Jika butuh tema kesehatan, kita ajak dokter berbicara agar orang tua tahu tumbuh kembang anak, “katanya.

Selain kegiatan bulanan tersebut, kata Lorina, juga ada kegiatan yang menghadirkan orang tua saat hari besar nasional atau hari besar agama. Misalnya, ketika bertepatan dengan hari guru, diadakan seminar tentang anak dan guru.

Pelibatan orang tua dalam proses pembelajaran di sekolah, menurut Lorina, didasari bahwa secara harfiah, tugas mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua. Namun karena belum siap, maka menitipkan anaknya ke sekolah. “Artinya apa? Artinya, kita sebagai orang tua tidak bisa meninggalkan anak begitu saja dan menyerahkan sepenuhnya ke guru. Tetap menjadi tanggung jawab orang tua. Kompensasinya, kita membantu kegiatan di sekolah, karena pada dasarnya ini tugas orang tua, “papar Lorina.

Di kesempatan lain, Kepala Sekolah KB dan RA Istiqlal, Nita Rosdewita, menuturkan, pelibatan orang tua telah dimulai sejak sekolah tersebut berdiri. Saat pertama kali melakukan proses ajar-mengajar tahun 1999, jumlah siswanya hanya  empat orang dengan lima guru. Tempat belajarnya di bawah tangga pintu Al Qudus Masjid Istiqlal. “Waktu itu peralatannya masih sangat sederhana, meja dan kursi saja berasal dari sumbangan orang tua, “ujarnya.

Metode pembelajaran yang dikembangkan di KB dan RA Istiqlal itu sendiri melalui pendekatan BCCT atau Beyond Centers and Circle Time) dengan konsep pembelajaran bermain. Ada Sembilan sentra yang terdapat di KB dan RA istiqlal, yakni Sentra Olah Tubuh, Sentra Musik, Sentra Memasak, Sentra Seni, Sentra Balok, Sentra Persiapan, Sentra Main Peran Makro, Sentra Ibadah, dan Sentra Bahan Alam.

“Apapun kurikulum yang ditetapkan pemerintah, kami akan olah dan ramu lagi, dan kami akan tetap menggunakan konsep bermain di dalamnya, “kata Nita.

Menurut Nita, kegiatan bermain/permainan merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi anak. Sadar dan tidak sadar, anak akan banyak belajar banyak hal dari bermain yang akhirnya akan mempengaruhi karakter anak di kemudian hari.