Cara Al Izhar Menumbuhkan Karakter Pada Peserta Didik

Blog Single

SAHABAT KELUARGA- Ini memang cerita lama, tepatnya 5 tahun lalu, tapi masih relevan untuk bisa diterapkan sampai hari ini, bahkan sampai kapanpun.

Menumbuhkan dan memperkuat karakter empati dan peduli terhadap sesama pada diri siswa merupakan tanggungjawab bersama antara orang tua dan pihak sekolah. Karena itu, yang paling penting, karakter peduli dan berempati pada siswa tumbuh tidak hanya melalui kegiatan membaca dan menulis di ruang kelas, tapi melalui kegiatan yang langsung terkait upaya penumbuhan karakter tersebut.

Salah satunya, sebagai contoh, yang dilakukan Perguruan Islam Al Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Lembaga pendidikan mulai dari jenjang taman kanak-kanak sampai SMA yang berlokasi di Jalan RS Fatmawati itu kerap menggelar kegiatan sosial yang melibatkan orang tua, bersama-sama dengan pihak sekolah dan siswa itu sendiri.

Diena Haryana, pembina lembaga Semai Jiwa Amini (SEJIWA) menuturkan pengalamannya sebagai Ketua Ikatan Orang Tua Murid (IOM) SMA Al Izhar periode tahun 2010-2012 lalu saat mengelola sebuah kegiatan bertajuk “Berempati di Bulan Ramadhan” berupa penjualan sembako murah dan penjualan barang-barang layak pakai.

“Kegiatan ini sebetulnya pernah dilakukan Al Izhar pada tahun-tahun sebelumnya, tapi kegiatan yang pernah saya kelola ini, menurut saya paling kolosal karena melibatkan banyak masyarakat dan perusahaan, “katanya beberapa waktu lalu.

Diceritakan Diena, kegiatan tersebut melibatkan hampir semua orang tua, siswa, dan guru, berupa pembagian sembako secara cuma-cuma kepada para guru dan staf di sekolah serta dijual sangat murah pada masyarakat kurang mampu di sekitar sekolah.

Dikatakannya, panitia kegiatan itu terdiri atas orang tua, pihak sekolah, serta perwakilan siswa SMP dan SMA.

Diakui Diena, kegiatan itu berhasil dilaksanakan karena kebetulan siswa dan siswi di Al Izhar mayoritas berasal dari keluarga yang sangat mampu secara finansial serta menduduki jabatan penting di berbagai perusahaan swasta.

Peluang itulah yang dimanfaatkan panitia untuk membeli berbagai produk bahan makanan pokok secara murah. Tecatat minyak goreng ‘Bimoli’, produsen tepung Bogasari, dan sebagainya memberikan kontribusi dengan menjual produk-produknya dengan harga 50 persen dibawah harga pasar. Kebetulan juga, perusahaan-perusahaan itu mempunyai program Corporate Responsibility Social (CSR) berupa pemberian bahan makanan pokok kepada masyarakat yang membutuhkan di bulan Ramadhan.

Dari hasil kerja keras panitia itu, terkumpul sebanyak 1000 kantong yang berisi berbagai bahan makanan pokok. Setiap kantongnya dijual seharga Rp75 ribu, padahal di pasaran seharga Rp200 ribu perkantongnya.

Dituturkan Diena, ada fakta yang menarik saat dilakukan evaluasi. Saat menjual kantong-kantong sembako itu ke masyarakat di sekitar sekolah, ada masyarakat yang berminat membeli tapi mereka tak mempunyai uang untuk membelinya. Atas inisiatif sendiri, beberapa siswa merogoh uang sakunya sendiri untuk membeli kantong-kantong sembako itu, dan lantas sembakonya itu diberikan pada warga yang tidak mampu itu.

Menurut Diena, ada banyak manfaat dari kegiatan penjualan sembako murah itu, antara lain melatih siswa untuk aktif dalam kegiatan yang sifatnya melayani serta menumbuhkan karakter empati dan peduli pada sesama, khususnya bagi yang kurang beruntung.

Manfaat lain, melatih siswa dalam hal bagaimana memimpin dan mengelola kegiatan yang kemudian diharapkan timbul rasa percaya diri siswa. Dengan kegiatan yang melibatkan banyak pihak, siswa juga diajarkan berkolaborasi dengan orang tua, sesama siswa, bahkan dengan masyarakat luas. Para siswa juga diajarkan kemampuan menjalin komunikasi dengan masyarakat yang kurang mampu di sekitarnya.

“Tentunya, karena ini dilakukan di bulan Ramadhan, para siswa bisa menjalankan bulan suci itu dengan cara yang aktif, positif, dan memberdayakan, “jelas Diena.

Menurutnya, kegiatan tersebut bisa diterapkan semua sekolah, tentunya dengan skala yang berbeda-beda, sesuai kondisi sekolah. “Memang di sekolah Al Izhar ini mayoritas orang berada, tapi kegiatan ini juga bisa dilakukan di sekolah yang katakanlah keadaan ekonomi orang tua siswa biasa-biasa saja, tentunya dengan skala dan besaran kegiatan yang beda, namun inti kegiatan sama, yakni memanfaatkan yang ada untuk menolong sesama, “jelasnya. (Yanuar Jatnika)