Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) mengadakan Nonton Bareng Virtual Film Kartini dalam rangka memperingati Hari Kartini, pada hari Sabtu 24/04. Nonton Bareng Virtual akan dilanjutkan dengan Jumpa Sapa (Meet and Greet) dari unsur aktris, sutradara, dan aktivis perempuan. Meet & Greet Nonton Bareng Virtual tanggal 24 April menghadirkan beberapa narasumber menarik antara lain; Dian Sastro Wardoyo (Aktris) yang menjadi tokoh kartini pada film ini, Hanung Bramantyo (Sutradara), Kalis Mardiasih (Aktivis Peremuan dan Penulis), dan Ivy Batuta sebagai pembawa acara.

Acara ini diharapkan dapat terus menyalakan dan meneruskan semangat R. A. Kartini. Film Kartini garapan Hanung Bramantyo ini menampilkan Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini berlatar pada era 1900-an. Dibawah penjajahan Belanda Kartini merupakan sosok perempuan pendobrak keterbatasan dan pembatasan perempuan pada zamannya. Sosok Kartini menjadi simbol kesetaraan gender di Indonesia karena perempuan pada masa itu tidak diizinkan untuk mengenyam pendidikan yang terlalu tinggi.

Dian Sastro salah satu narasumber acara

R.A Kartini melihat bagaimana ibunya, Ngasirah (Christine Hakim), menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri karena tidak memiliki darah ningrat. Akhirnya, dengan tekadnya yang kuat, Kartini memperjuangkan kesetaraan dan pendidikan untuk kaum perempuan dan kaum miskin bersama dua saudarinya, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita). “Film ini akan meningkatkan masyarakat khususnya generasi muda untuk mengenal ketokohan R.A Kartini. apa saja yang telah di wariskan dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia terutama perempuan indonesia dari dulu sampai sekarang.” ujar Ainun Na’im, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdikbud saat membuka acara Nobar ini. Acara seperti ini sangat bermanfaat membangun karakter bangsa Indonesia yang punya karakter unggul yang dapat bergaul menghadapi peradaban dunia.” jelas Ainun.

Rasa Bahagia dan bangga di utarakan Dian selaku pemeran utama film R.A Kartini “Kesempatan yang sangat berharga dan anugerah dapat memerankan sosok Kartini dalam film ini” ujar Dian. Dian semakin mengenal Kartini melalui tulisan-tulisannya, dan mengerti alasan dijadikan tanggal kelahiran R.A Kartini (21 April) diperingati setiap tahunnya. Menurut Dian, “sudah saatnya perempuan Indonesia bisa terus bermimpi dan mewujudkan cita-citanya dengan selalu berkarya, berkarya dan berkarya”, ujar Dian. Dari Keseluruhan cerita yang pada Film Kartini, Dian paling menyukai scene disaat kartini berbicara dari hati ke hati di pinggir danau dengan ibunya yang meminta dia untuk menikah di pinggiran danau, walaupun dengan menikah bukan akhir dari padamnya cita-cita yang ia inginkan.

Sutradara Film Kartini, Hanung Bramantyo sangat bersyukur sekali bahwa film Kartini dapat dinikmati oleh Sahabat Karakter melalui acara Nobar ini. “Terima kasih kepada acara ini, memberikan kesempatan bagi saya memutarkan film Kartini. Versi ini diputar di kongres PBB yang dihadiri oleh 39 delegasi negara di dunia kongres perempuan dunia di New York kira-kira dua tahun yang lalu”.

Hanung juga menyampaikan kebangganya atas jiwa literasi dan entrepreneurship yang ditanamkan Kartini dalam memperjuangkan pemikiran-pemikirannya. “Literasi menjadi penting sekali yang mendasari Kartini menjadi seorang pahlawan yang harus kita peringati dan diingatkan terus menerus setiap tahun bahwa menulis dan membaca adalah hal yang sangat penting sekali karena sebagai basis pendidikan disamping pendidikan orang tua dan keluarga yang ada di rumah.  Kiprah Kartini yang kuat sekali dalam entrepreneurship  itu membuat kerajinan ukir bisa diekspor dan merajai dunia”.

Melalui film ini, Kalis Mardiasih penulis dan aktivis perempuan menyampaikan bahwa Kartini sebagai perempuan berusaha mendobrak definisi penilaian terhadap perempuan oleh masyarakat yang tradisional dengan pengetahuan dan keberanian.“ Sebagai seorang perempuan kita selalu didefinisikan oleh masyarakat yang tradisional. Perempuan selalu dipertanyakan oleh nilai-nilainya yaitu bagaimana dia menjadi, dan untuk apa dia menjadi. Kartini mendobrak itu semua dia berusaha mendefinisikan dirinya sendiri dengan pengetahuan dan keberanian.”

Nobar Virtual kali kedua yang dilaksanakan Puspeka sejak tahun 2020 merupakan upaya dalam mengkampanyekan penguatan karakter. Film yang kali ini di pilih “Kartini” karya Hanung Bramantyo.  Nobar Film Kartini diharapkan bisa mengedukasi kesetaraan dalam hal pendidikan bagi perempuan Indonesia, mendorong kepercayaan diri perempuan dalam berkarier, menumbuhkan semangat perempuan untuk berkarya di berbagai bidang, serta membangkitkan kualitas hidup perempuan, ujar Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Hendarman kepada 4000 peserta yang ikut melalui aplikasi zoom dan #SahabatKarakter yang menyaksikan via Tiktok dan Youtube Puspeka. (Lany/Dina)

Pusat Penguatan Karakter

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Menguatkan Literasi, Jiwa Kewirausahaan (Enterpreneur) dan Selalu Berkarya seperti RA. Kartini